Journal

Brugge, I fell in love!

June 8, 2015

aku ingin kamu membaca ini sambil mendengarkan lagu dari Lady Antebellum – Just a Kiss

6:20 PM
Sekali lagi terdengar suara announcer dari balik radio yang mengumumkan penerbangan dari Amsterdam ke Jakarta akan segera diberangkatkan, aku yang saat itu masih sibuk melihat kembali foto-foto dari kamera DSLRku langsung bergegas menuju pintu A52 Schipol International Airport Amsterdam untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Indonesia.

I know that if we give this a little time
It’ll only bring us closer to the love we wanna find
It’s never felt so real, no it’s never felt so right

6:50 PM
Disinilah aku berada, duduk didalam rongga pesawat diantara orang-orang asing dengan jendela yang menghadap keluar di sisi kanan. Aku harap perjalanan yang akan aku tempuh bersama orang-orang asing selama 14jam ini sedikit banyak dapat membantuku segera bergerak dari kenangan-kenangan yang tertinggal selama di Amsterdam, Brussels, dan Brugge. Ternyata benar omongan si orang tua itu kepadaku ketika pementasan wayangnya di gedung RRI Yogyakarta beberapa bulan lalu, “Kau bisa merencanakan menikah dengan siapapun, Kau bisa merencanakan istrimu kelak berbentuk lonjong atau bulat, berambut lurus atau kriting, berkulit putih atau gelap, tapi kau tak akan pernah bisa merencanakan cintamu untuk siapa!” Dasar dalang EDAN! batinku dalam hati sambil tersenyum sinis.

Perjalanan selama 14 jam ini ingin kuhabiskan berdiam diri tanpa bacaan, tanpa game ataupun pekerjaan.. sehingga aku bisa berfikir, kenapa bisa-bisanya aku jatuh cinta di waktu yang salah kepada orang yang tidak tepat. Padahal sudah lebih dari 5 tahun ini aku mati-matian membentengi hatiku.. Well I need to figure it out, supaya setelah 14 jam perjalanan dari Amsterdam ke Jakarta ini berakhir, aku bisa cepat bergerak dari kenangan-kenangan yang tertinggal itu.

Deru suara pesawat mulai menggema, penumpang menggunakan sabuk pengamanya dan suara pilot yang berbicara melalui radio menandakan resmi dimulainya perjalanan, deadline 14 jam itu-pun dimulai.

Namanya Alejandra, wanita berkewarganegaraan Kolombia itulah penyebab semua ini, sumber masalah dari semua kegundahanku.. terakhir kali aku jatuh cinta butuh waktu lebih 1,5 tahun untuk memastikanya, tapi wanita dengan rambut keriting berwarna kemerahan ini hanya butuh waktu kurang dari seminggu untuk merobohkan segala pertahanan yang sudah kubentuk selama lebih dari 5tahun itu. Pesawat sudah lepas landas, aku membuka tas kecil yang kutaruh di bawah kompartemen tempat duduk, mengambil kamera dan melihat lagi foto-foto terakhir kami bersama saat mengunjungi Brugge, kota kecil yang terkenal akan keindahan arsitekturialnya itu dan hanya butuh waktu sekitar 55 menit dengan kereta dari Central Station kota Brussels.

Kami menghabiskan waktu seharian di Brugge, seperti yang aku sebutkan sebelumnya.. Brugge merupakan kota kecil, dari Stasiun kita bisa berjalan selama 15-20 menit untuk menuju pusat kota, dan selama berjalan itu kita akan disuguhi dengan keindahan arsitekturial bangunan yang sederhana, namun cantik.. tidak semegah Antwerpen, pun tidak semewah Brussels, namum Brugge mempunyai caranya sendiri untuk menarik hati para pengunjungnya.

brugge1 brugge3 brugge2brugge5

Indikator suhu di smartphoneku menunjuk angka 14ºC, ditambah hembusan angin memaksa orang tropis seperti kami menggigil, dan layaknya seorang gentlemen aku memberikan jaketku padanya, and out of from nowhere kami mulai bergandengan tangan dan disaat itulah aku baru mulai tersadar.. setiap jengkal langkah yang kami buat menyusuri Brugge ini mengantarkan kami pada jarak, jarak yang dipisah oleh samudra, jarak yang terentang sepanjang +-18.999 KM, jarak yang memisahkan 12 jam waktu kami. Bagaimana aku bisa siap oleh jarak itu? semua terlalu cepat! Sedangkan hatiku baru saja merasa nyaman denganya.

#followmeto #brugge

#followmeto #brugge

Sepanjang perjalanan menyusuri jalan menuju samping balai kota itu kami lebih memilih diam, aku lebih memilih membiarkan pikiranku melayang tentang jarak yang luar biasa jauh itu, it’s funny right..? how some people will stay in your heart, but not in your life…

Sometime in the future maybe we can get together, maybe share a drink and talk awhile
And reminisce about the days when we were still together
Maybe somewhere further down the line
And I will meet you there
Sometime in the future we can share our stories
When we won’t care about all of our mistakes, our failures, and our glories
But until that day comes along I’ll keep on moving on.

1:40 AM
Aku terbangun dari tidur, jam tanganku menunjukan angka sekitar pukul 1:40, Perjalanan masih sekitar 8jam lagi. Lagu dari Kodaline – High Hopes yang terputar di smartphoneku malah menjadikan perasaanku semakin terbawa arus. Sambil menatap jendela yang tertutup, pikiranku menerawang pemandangan langit biru yang dihiasi kumpulan awan bak samudra di baliknya, menerawang bagaimana bila kenangan yang sudah ada ini untuk diperjuangkan? Otak kiriku secara tegas menolak gagasan itu, dengan langsung menyuguhkan alasan-alasan logis. “Bagaimana bisa kamu dan dia bersama? kalian begitu berbeda.. semua berbeda, persamaan kalian hanya perasaan nyaman sementara yang tercipta dari kebersamaan yang sesaat. Kepercayaan? Beda!, Bahasa? Beda!, Budaya? Beda! kalian begitu berbeda! kecuali hanya dalam cinta!”

Lagu dari Kodaline yang berjudul High Hopes aku putar berulang untuk mengantarkanku kembali tertidur

But I’ve got high hopes, it takes me back to when we started
High hopes, when you let it go, go out and start again
High hopes, when it all comes to an end
But the world keeps spinning around

 

Aku terbangun oleh pramugari yang membagikan makanan, sekarang semua jendela sudah terbuka, indikator dilayar monitor menunjukan 30 menit lagi kita akan landing di jakarta, dan waktu sekitar 16.40 PM WIB, disusul suara pilot yang berbicara melalui radio. Aku tidak begitu mendengarkan, hanya melihat keluar jendela, melihat pemandangan kota Jakarta, dan dengan berakhirnya lagu dari Kodaline ini, aku berharap sudah bisa meninggalkan semua kenangan Brussel, tentang Brugge dan tentangnya.

 

Ditulis di ketinggian 30.000 kaki diatas permukaan air laut, didalam pesawat Jakarta – Jogja
7 Juni 2015

 

 

 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply